
Jejak Kesultanan Deli: Awal Mula Berdirinya Kota Medan – Kota Medan yang kini dikenal sebagai salah satu pusat perekonomian terbesar di Indonesia, menyimpan sejarah panjang yang berakar dari sebuah kerajaan Melayu di pesisir timur Sumatera — Kesultanan Deli. Berdirinya kesultanan ini menjadi titik awal perkembangan kawasan yang kemudian tumbuh menjadi kota metropolitan modern.
Kesultanan Deli berdiri sekitar tahun 1630, dipimpin oleh Tuanku Gocah Pahlawan, seorang tokoh militer dari Aceh yang ditugaskan untuk mengatur wilayah timur Sumatera. Kala itu, daerah Deli masih berupa hutan lebat dan rawa-rawa di tepi Sungai Deli. Gocah Pahlawan yang memiliki darah bangsawan Pidie-Aceh berhasil membangun pemerintahan dan tatanan sosial yang kuat, sehingga perlahan wilayah tersebut berkembang menjadi pusat kekuasaan baru di bawah pengaruh Kesultanan Aceh Darussalam.
Setelah masa Tuanku Gocah Pahlawan, kekuasaan dilanjutkan oleh Tuanku Panglima Perunggit, yang secara resmi memproklamasikan berdirinya Kesultanan Deli yang merdeka dari pengaruh Aceh pada sekitar tahun 1669. Dari sinilah sejarah panjang Medan bermula — dari sebuah kesultanan yang berdiri di antara sungai dan hutan tropis, menuju kota pelabuhan yang ramai dan multikultural.
Pusat Kekuasaan di Medan dan Sungai Deli
Keberadaan Sungai Deli menjadi kunci dalam perkembangan awal Kesultanan Deli. Sungai ini berfungsi sebagai jalur utama perdagangan dan transportasi, menghubungkan daerah pedalaman dengan pesisir Selat Malaka yang ramai oleh kapal-kapal dagang.
Di sekitar sungai inilah Kampung Medan dibangun — kawasan yang menjadi cikal bakal nama “Medan” yang kita kenal sekarang. Menurut beberapa catatan sejarah, kata Medan berasal dari bahasa Tamil “Maidan”, yang berarti tanah lapang atau padang, menggambarkan kondisi geografis wilayah tersebut yang terbuka dan subur.
Kesultanan Deli pada masa itu menjalin hubungan erat dengan pedagang dari India, Arab, dan Tiongkok, yang datang membawa rempah-rempah, kain, dan barang logam. Sebagai imbalannya, Deli mengekspor hasil bumi seperti lada, kemenyan, dan hasil hutan lainnya.
Perkembangan perdagangan ini membuat kawasan Medan menjadi semakin penting secara ekonomi dan politik. Perlahan, kampung kecil di tepi sungai berubah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan di bawah naungan Kesultanan Deli.
Masa Keemasan Deli: Tembakau dan Kolonialisme
Masa keemasan Kesultanan Deli dimulai pada abad ke-19, ketika wilayah ini dikenal dunia sebagai penghasil tembakau terbaik di Asia. Tanaman tembakau Deli — atau yang dikenal sebagai Deli Tobacco — memiliki kualitas daun yang halus dan aromatik, sangat diminati oleh pasar Eropa untuk pembuatan cerutu premium.
Kesultanan Deli bekerja sama dengan perusahaan Belanda, Deli Maatschappij, yang mulai membuka perkebunan tembakau besar-besaran di sekitar Medan, Binjai, dan Langkat. Dari sinilah muncul fenomena ekonomi baru: ribuan pekerja dari Jawa, Tionghoa, dan India didatangkan untuk bekerja di perkebunan.
Perkebunan tembakau menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi kawasan Deli. Namun, di balik kejayaan itu, muncul pula ketimpangan sosial dan eksploitasi buruh. Sistem kuli kontrak yang diterapkan perusahaan Belanda sering kali menimbulkan penderitaan bagi para pekerja, sementara Kesultanan Deli tetap menikmati keuntungan dari kerja sama tersebut.
Meski demikian, kemakmuran dari perdagangan tembakau membuat Kesultanan Deli semakin berpengaruh. Sultan Deli ke-8, Tuanku Ma’mun Al Rashid Perkasa Alamsyah, bahkan dikenal karena membangun istana megah bernama Istana Maimun, yang hingga kini menjadi simbol kejayaan Deli dan ikon Kota Medan.
Istana Maimun dan Warisan Arsitektur Melayu
Dibangun pada tahun 1888, Istana Maimun bukan sekadar pusat pemerintahan, tetapi juga lambang kemegahan dan keindahan budaya Melayu Deli. Arsitektur istana ini merupakan perpaduan antara gaya Melayu, Islam, India, dan Eropa, mencerminkan keterbukaan Kesultanan Deli terhadap pengaruh luar.
Bangunan berwarna kuning keemasan ini memiliki lebih dari 30 ruangan dan menghadap ke Masjid Raya Al-Mashun — simbol keseimbangan antara kekuasaan duniawi dan spiritual. Hingga kini, istana ini masih menjadi tempat penting dalam upacara adat Kesultanan Deli, sekaligus destinasi wisata sejarah utama di Medan.
Warisan arsitektur lain yang menandai jejak Kesultanan Deli adalah Masjid Raya Al-Mashun, yang dibangun pada tahun 1906 di bawah kepemimpinan Sultan Ma’mun Al Rashid. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus bukti kemajuan peradaban Islam di Sumatera Timur kala itu.
Dari Kesultanan ke Kota Modern
Masuknya kekuasaan Belanda secara penuh pada akhir abad ke-19 secara perlahan mengubah wajah Deli. Pemerintah kolonial mendirikan infrastruktur modern seperti jalur kereta api, pelabuhan, dan kantor administrasi di kawasan Medan. Aktivitas perdagangan dan perkebunan berkembang pesat, menarik pendatang dari berbagai etnis untuk menetap.
Kombinasi antara Melayu, Jawa, Batak, Tionghoa, dan India menciptakan masyarakat yang majemuk — ciri khas Kota Medan hingga kini. Sementara Kesultanan Deli tetap memiliki peran simbolis dan adat, roda pemerintahan modern mulai dijalankan oleh administrasi kolonial.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Kesultanan Deli tidak lagi memiliki kekuasaan politik, tetapi jejaknya tetap kuat dalam kehidupan budaya masyarakat Medan. Banyak nama tempat, tradisi, dan peninggalan arsitektur yang masih menegaskan pengaruh Deli dalam sejarah kota ini.
Nilai Budaya dan Warisan yang Hidup
Hingga kini, warisan Kesultanan Deli masih terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Medan. Bahasa Melayu Deli, misalnya, masih digunakan di berbagai daerah sekitar, dengan logat khas yang lembut dan bersahaja. Tradisi adat istiadat Melayu seperti tepung tawar, marhaban, dan adat pernikahan Deli masih dilestarikan dalam acara budaya dan upacara resmi.
Sementara itu, generasi penerus Kesultanan Deli masih aktif menjaga warisan leluhur. Mereka kerap terlibat dalam kegiatan kebudayaan, pelestarian situs sejarah, dan promosi pariwisata yang mengangkat identitas Melayu Deli.
Medan modern mungkin telah berubah menjadi kota metropolitan dengan gedung tinggi dan jalan padat, namun di balik itu semua, roh Kesultanan Deli tetap hidup — dalam arsitektur, bahasa, adat, dan semangat masyarakatnya yang terbuka terhadap keberagaman.
Kesimpulan
Kesultanan Deli adalah fondasi historis yang membentuk Kota Medan seperti yang kita kenal hari ini. Dari hutan di tepi Sungai Deli hingga menjadi pusat perdagangan internasional, perjalanan panjang kesultanan ini mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang kaya.
Warisan Kesultanan Deli bukan hanya bangunan megah seperti Istana Maimun atau Masjid Raya Al-Mashun, melainkan juga nilai-nilai Melayu yang menjunjung kehormatan, kebersamaan, dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Medan tumbuh menjadi kota modern berkat akar sejarah yang kuat dari masa lalu. Dan di setiap sudutnya — dari sungai, istana, hingga pasar — kita masih bisa merasakan denyut nadi jejak Kesultanan Deli, cikal bakal lahirnya kota besar di jantung Sumatera Utara.