Sejarah Pasar Ikan Lama Medan, Pusat Niaga Tempo Dulu

Sejarah Pasar Ikan Lama Medan, Pusat Niaga Tempo Dulu – Kota Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara, tidak hanya dikenal dengan bangunan kolonial dan kuliner khasnya, tetapi juga dengan sejarah panjang perdagangan yang membentuk wajah kotanya hingga kini. Salah satu saksi bisu dari masa kejayaan niaga Medan adalah Pasar Ikan Lama, sebuah kawasan yang dulu menjadi pusat perdagangan penting di masa kolonial dan hingga kini tetap menjadi denyut kehidupan ekonomi masyarakat kota.

Meski namanya “Pasar Ikan Lama,” kawasan ini bukan hanya tempat menjual ikan. Ia adalah pusat ekonomi yang hidup, tempat bertemunya berbagai etnis dan budaya, serta simbol perjalanan Medan sebagai kota multikultural yang tumbuh dari kegiatan dagang.


Asal-Usul dan Sejarah Awal

Sejarah Pasar Ikan Lama berawal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika Medan mulai berkembang pesat sebagai pusat perdagangan hasil perkebunan kolonial Belanda. Saat itu, wilayah Kesawan dan sekitarnya menjadi kawasan elite bagi para pedagang dan perusahaan Eropa.

Pasar Ikan Lama didirikan di kawasan yang tidak jauh dari Sungai Deli — jalur transportasi utama kala itu. Sungai ini menjadi nadi bagi pengangkutan hasil bumi seperti tembakau Deli, karet, dan kelapa sawit.
Karena letaknya strategis, banyak pedagang lokal dan pendatang — terutama dari Tionghoa, India, dan Arab — membuka toko di sekitar area tersebut. Mereka menjual berbagai kebutuhan pokok, alat rumah tangga, kain, hingga perhiasan.

Nama “Pasar Ikan” sendiri diyakini berasal dari aktivitas jual-beli ikan segar yang banyak dilakukan oleh pedagang Melayu di kawasan ini. Namun, seiring waktu, jenis dagangan semakin beragam, menjadikannya pasar umum terbesar di Medan kala itu.


Kawasan Niaga Multietnis

Salah satu keunikan Pasar Ikan Lama adalah keberagaman etnis yang beraktivitas di dalamnya. Kawasan ini menjadi tempat bertemunya budaya Melayu, Tionghoa, India, Arab, dan Batak.

Di satu sisi jalan, pedagang Tionghoa mengelola toko kelontong dan perhiasan; di sisi lain, pedagang India menjual kain sutra, rempah, dan parfum; sementara pedagang Arab terkenal dengan hasil dagang seperti kurma dan minyak wangi.

Kehidupan sosial di sekitar pasar pun sangat dinamis. Tidak hanya perdagangan, tetapi juga pertukaran budaya terjadi setiap hari. Bahasa yang digunakan pun campur aduk — Melayu Deli, Hokkien, Tamil, dan Arab.
Inilah yang membuat Pasar Ikan Lama menjadi miniatur Medan tempo dulu — tempat di mana perdagangan dan keberagaman berbaur tanpa sekat.


Peran Penting di Masa Kolonial

Pada masa kolonial Belanda, Pasar Ikan Lama menjadi salah satu pusat niaga paling sibuk di Medan. Letaknya yang dekat dengan Pelabuhan Belawan menjadikannya area penting untuk distribusi barang. Pedagang dari berbagai daerah di Sumatera datang ke sini untuk menjual hasil bumi dan membeli barang-barang kebutuhan.

Bangunan-bangunan toko di kawasan ini memiliki arsitektur khas kolonial: dinding tebal, jendela tinggi, dan atap bergaya Belanda. Hingga kini, beberapa bangunan tua tersebut masih berdiri kokoh, menjadi saksi sejarah aktivitas niaga masa lalu.

Pasar ini juga menjadi salah satu pusat transaksi emas dan tekstil pada masa itu. Banyak keluarga pedagang keturunan Tionghoa yang memulai usahanya dari Pasar Ikan Lama sebelum akhirnya berkembang menjadi pengusaha besar di Medan dan sekitarnya.


Masa Kejayaan di Era 1950–1980-an

Setelah Indonesia merdeka, Pasar Ikan Lama tetap bertahan sebagai jantung ekonomi rakyat Medan.
Pada era 1950–1980-an, kawasan ini mencapai masa kejayaannya. Banyak warga datang dari luar kota — bahkan dari Aceh dan Riau — untuk berbelanja di sini.

Di masa itu, Pasar Ikan Lama dikenal sebagai pusat grosir dan ritel terbesar di Medan.
Barang-barang yang dijual sangat beragam, mulai dari kain, perhiasan, bahan makanan, hingga kebutuhan rumah tangga. Setiap pagi, jalanan di sekitar pasar dipadati pedagang kaki lima dan pembeli yang datang silih berganti.

Kawasan ini juga menjadi pusat interaksi sosial. Orang-orang datang bukan hanya untuk berdagang, tapi juga bertukar kabar dan bersilaturahmi. Tidak heran, banyak warga Medan lama yang memiliki kenangan khusus dengan suasana pasar ini.


Transformasi di Era Modern

Memasuki era 2000-an, perkembangan kota Medan membawa perubahan besar pada wajah Pasar Ikan Lama.
Modernisasi pusat perbelanjaan dan kehadiran mal-mal besar membuat sebagian aktivitas perdagangan bergeser. Namun, Pasar Ikan Lama tetap bertahan dengan identitasnya sebagai pasar tradisional yang kuat.

Kini, kawasan ini dikenal sebagai sentra penjualan perhiasan emas dan perak. Deretan toko emas di sepanjang Jalan Perniagaan dan Jalan Hindu menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Tidak hanya warga Medan, pembeli dari luar kota juga datang untuk mencari perhiasan dengan harga bersaing.

Selain toko emas, di sekitar kawasan masih banyak ditemukan toko kain, alat ibadah, hingga kedai makanan legendaris.
Meskipun aktivitasnya tidak sepadat masa lalu, Pasar Ikan Lama tetap menjadi simbol warisan niaga Medan yang tidak lekang oleh waktu.


Pesona Arsitektur dan Budaya yang Bertahan

Salah satu hal yang membuat Pasar Ikan Lama menarik adalah keberadaan bangunan tua bergaya kolonial yang masih berdiri hingga kini. Sebagian di antaranya telah direnovasi, namun tetap mempertahankan bentuk asli seperti fasad jendela besar dan pintu kayu klasik.

Beberapa fotografer dan pecinta sejarah sering menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata budaya dan fotografi urban.
Kehidupan pasar yang padat, warna-warni dagangan, serta bangunan tua menciptakan suasana khas Medan tempo dulu yang sulit ditemukan di tempat lain.

Selain itu, kuliner di sekitar Pasar Ikan Lama juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung bisa menemukan beragam makanan tradisional Medan, seperti lontong sayur, soto Medan, hingga roti jala khas Melayu. Aroma rempah dan hiruk-pikuk pedagang menambah kesan nostalgia di kawasan ini.


Pelestarian dan Tantangan ke Depan

Meskipun memiliki nilai sejarah tinggi, Pasar Ikan Lama kini menghadapi berbagai tantangan. Modernisasi kota, keterbatasan lahan parkir, hingga persaingan dengan pusat perbelanjaan modern membuat kawasan ini perlu beradaptasi.

Namun, pemerintah kota dan komunitas sejarah mulai meningkatkan upaya pelestarian.
Beberapa rencana revitalisasi telah dibicarakan untuk mempertahankan nilai historis kawasan ini, sekaligus menjadikannya destinasi wisata sejarah dan budaya.

Pelestarian Pasar Ikan Lama bukan hanya tentang mempertahankan bangunan tua, tetapi juga menjaga jiwa perdagangan rakyat dan nilai multikultural yang melekat sejak awal berdirinya.
Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini berpotensi menjadi ikon wisata sejarah seperti kawasan Kota Tua di Jakarta atau George Town di Penang, Malaysia.


Kesimpulan

Pasar Ikan Lama Medan bukan sekadar tempat berdagang. Ia adalah cermin perjalanan sejarah kota Medan, dari masa kolonial hingga era modern.
Kawasan ini menjadi saksi bagaimana perdagangan mampu menyatukan berbagai etnis dan budaya dalam satu ruang yang penuh dinamika.

Meski zaman berubah, semangat niaga dan keberagaman yang tumbuh di Pasar Ikan Lama tetap hidup.
Di tengah hiruk-pikuk kota modern, tempat ini mengingatkan kita bahwa akar kejayaan ekonomi Medan bermula dari sebuah pasar sederhana di tepi Sungai Deli — pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Ikan Lama, pusat niaga tempo dulu yang tak lekang oleh waktu.

Scroll to Top